Jumat, 03 Juli 2015

"Galau" Inspires Me :)

Sumber: Dokumen Pribadi


Ruang Langit

Hujan memang tak datang
Mentari juga tak mencoba mencari ruang
Hanya kelabu memeluk langit
Namun mungkin saja pelangi mengintip malu-malu
Bersembunyi di balik kelabu itu
Entah kapan ia akan memancar
Mungkin ia menunggu hujan menyatakan rindu pada tanah
Atau mungkin ia tetap bersama dalam pelukan langit

oleh: Irna Noverita
dibuat: Selasa, 17 Februari 2015 (di Kamar Kos Wisma Tidar, Kukel)

Dari dulu nggak pernah bosen buat ngulik puisi, sesulit apapun itu. Puisi itu misterius. Yang terlihat gak seperti kelihatannya. Kelihatan sederhana padahal rumit. Kelihatan rumit padahal sederhana. Puisi juga mirip-mirip sama matematika. Bedanya, matematika cuma punya satu jawaban tapi puisi puluhan..bahkan ratusan J

Jujur, saya itu sama sekali nggak jago bikin puisi jatuh cinta, senang, gembira dan kawan-kawannya. Entah kenapa puisi-puisi saya yang bertema seperti itu saya anggap produk gagal karena nggak ngena, nggak pas, sampe kata-katanya saya ubah berkali-kali. Iya mungkin saya masuk anaknya ikut aliran galauisme. Saya juga gak tahu kenapa saya selalu seneng baca puisi-puisi saya yang bertema kerapuhan, keterpurukan, bimbang, galau, kalut, gelisah apapun itu namanya. Dari dulu saya merasa otak saya selalu dapat inspirasi kata-kata pas saya sedang berada di zona mood negatif (?) *hidup gue negatif amat perasaan*

Setelah saya lihat-lihat lagi buku yang isinya kumpulan puisi-puisi yang saya buat, 80% puisi itu adalah puisi kesedihan, keterpurukan, rapuh, marah, 10% tentang kebahagiaan, cinta, syukur, 10 % lagi adalah puisi yang saya bikin karena melihat isu hangat di masyarakat. Nah kan keliatan..inspirasi terbesar saya ya kegalauan. Entah itu kegalauan saya sendiri atau kegalauan temen-temen yang pada curhat atau kegalauan orang sekitar yang lagi pada gosip hahaha. Intinya ya galau itu udah masuk ke setiap celah inspirasi saya. Sedih banget emang. Yaudah sih galaunya produktif kan? dan tidak mengeluarkan uang sedikitpun. 


Puisi yang gambarnya diupload itu salah satu puisi favorit saya. Kalau pada nanya jangan-jangan ini memang pengalaman pribadi? YES YOU ARE RIGHT hahaha. Silakan buat penilaian masing-masing puisi ini tentang apa jelasnya. Alasan kenapa saya suka adalah puisi di atas gak cuma terlihat galau, tapi gabungan antara galau, syukur, bimbang dan kepasrahan ke Tuhan. Sumpah waktu bikin ini cuma asal coret dan ga ada intensi buat bikin seribet itu tapi jadinya mendingan dibandingin puisi-puisi lain. Aku mah ya cuma remah rengginang kalo dibandingin sama kakak-kakak pujangga di luar sana yang kata-katanya udah dewa banget. Seenggaknya walaupun ga sebagus pujangga di luar sana, puisi bisa jadi pelampiasan saya dalam perasaan apapun. Pas lagi sedih, marah, seneng..kepikiran kata-kata harus langsung ditulis di kertas atau hp biar ga ilang. Kebanyakan sih pas lagi sedih nulisnya..Jadi misalkan lagi seneng dapet inspirasi, nyoba ngerangkai kata...tapi ujung-ujungnya jadi kaya berasa pasrah gitu isinya...emang ya gimana anaknya galau gini. Tapi saya berterima kasih buat kegalauan saya selama ini yang menginspirasi saya untuk produktif (bikin puisi) :)

Selasa, 17 Februari 2015

"Cinta" by Sanusi Pane

Dalam ribaan bahagia datang
Tersenyum bagai kencana
Mengharum bagai cendana
Dalam bah'gia cinta tiba melayang
Bersinar bagai matahari
Mewarna bagai sari

"Aku Ingin" by Sapardi Djoko Damono


aku ingin mencintaimu dengan sederhana;

dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan 

yang menjadikannya tiada

Back to My Past

It's been a while since I posted "Lupa Bahasa Indonesia? Masa?" Honestly I don't have any idea after that article was posted. What should I post then? Since I have so many random night and random moment here and there, I try to arrange those randomness into poetry. This poem is written while I mused my past and see over the windows in.....KOPAJA..yes..you read it right...That greeny public bus in Jakarta. This poem is written on my way to office. I said, i have a bunch of random moments that others don't know about. Maybe some of you who read this poem will think that I write this when I fall into someone. NO NO you got me wrong. Curious? just read and follow your imagination :)

Aku ingin kau menjadi seperti
Matahari yang tak pernah tenggelam
Bulan yang tak meredup
dan laut yang tak menyurut

Cintaku memang tak sesederhana puisi Sapardi*
atau seromantis puisi Sanusi*

Apa perlu kesederhanaan dalam cinta?
Sedang mawarpun terbalut duri untuk dikagumi
dan hujan harus dimaki sebelum terbit pelangi
Apa aku harus terjatuh berkali-kali seperti hujan
Atau menusuk seperti duri mawar?

by: Irna Noverita
February, 7th-11th 2015 (Kopaja 614)